Loa Pari Dorong UMKM Naik Kelas, Tempe dan Gorengan Jadi Ikon Kuliner Desa

NalaRNusantara-Kukar; Desa Loa Pari, yang terletak di Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), kini mulai dikenal sebagai desa yang ramah UMKM dan penuh inovasi lokal.

Pemerintah desa setempat terus menggencarkan dukungan terhadap pelaku usaha kecil berbasis rumahan, khususnya yang bergerak di bidang kuliner seperti tempe dan gorengan.

Potensi ini tak muncul begitu saja. Kepala Desa Loa Pari, I Ketut Sudiyatmika, menjelaskan bahwa sejak beberapa tahun terakhir, pihaknya aktif mendorong para warga untuk mengembangkan usaha yang sesuai dengan kearifan lokal dan kebutuhan pasar.

Salah satu contoh nyata adalah tumbuhnya usaha tempe rumahan yang kini mulai dikenal hingga ke desa-desa tetangga seperti Teluk Dalam dan Loa Raya.

“Hari ini, ada sekitar 9 hingga 10 pelaku usaha tempe di desa kami. Mereka memproduksi langsung dari rumah masing-masing,” terang Ketut, Jumat (30/5/2025).

Ia menyebut bahwa para pelaku ini bukan hanya mendapat semangat dari warga, tapi juga pendampingan langsung dari Disperindakop Kukar serta pemerintah desa.

Yang menarik, proses produksi tempe di Loa Pari telah mengalami kemajuan signifikan. Bila dulu prosesnya masih sangat tradisional, kini para pelaku usaha telah dibantu mesin modern yang lebih efisien.

“Kalau dulu diinjek-injek pakai kaki, sekarang sudah pakai mesin pencacah. Ini mempermudah dan mempercepat proses produksi,” ujarnya.

Selain tempe, gorengan khas Loa Pari juga menjadi primadona. Warga desa tak hanya menjualnya untuk konsumsi lokal, tapi juga melayani permintaan dari luar desa.

Perlahan tapi pasti, kuliner ini mulai membentuk identitas rasa khas Loa Pari yang punya potensi berkembang lebih luas.

Menjawab kebutuhan penguatan kapasitas pelaku UMKM, pemerintah desa bersama Disperindakop Kukar juga rutin menggelar pelatihan. Materi yang diberikan tak hanya tentang teknik produksi dan inovasi olahan, tetapi juga pengemasan, perizinan usaha, dan sertifikasi halal.

“Beberapa pelatihan sudah kami selenggarakan agar produk warga lebih berkualitas dan bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” ungkap Ketut.

Ia percaya, langkah-langkah sederhana ini akan berdampak besar bagi kemandirian dan keberlanjutan usaha warga.

Tak hanya soal produksi, perhatian juga diberikan pada aspek legalitas. Menurut Ketut, sertifikasi halal dan izin usaha menjadi pintu masuk penting bagi UMKM untuk menjangkau pasar ritel modern maupun platform digital.

“Kami berharap dengan pelatihan dan bantuan alat ini, pelaku usaha bisa terus berkembang, produknya semakin berkualitas, berizin, dan berstandar halal sehingga bisa bersaing di pasar yang lebih luas,” pungkasnya.

Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Loa Pari menjadi contoh nyata bagaimana sinergi antara pemerintah dan masyarakat bisa melahirkan ekosistem UMKM yang tangguh, berbasis lokal, namun berorientasi pasar global. (Fh/adv)

57 views 3 mins 0 Comments