
Kolaborasi Pemerintah Desa Ponoragan Kembangkan Perpustakaan Cerdas Multifungsi
NalaRNusantara-Kukar; Dalam upaya membangun desa berbasis teknologi dan literasi, Pemerintah Desa Ponoragan di Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), terus berinovasi melalui pengembangan fasilitas publik yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Salah satu inovasi yang kini mendapat sorotan adalah hadirnya Perpustakaan Cerdas, sebuah ruang literasi digital multifungsi yang menjadi pusat kegiatan sosial dan edukasi warga.
Kepala Desa Ponoragan, Sarmin, menyampaikan bahwa pembangunan Perpustakaan Cerdas tidak hanya bertujuan menyediakan akses bahan bacaan, tetapi juga difungsikan sebagai ruang terbuka bagi beragam aktivitas masyarakat.
“Fungsinya tidak tunggal. Selain untuk membaca, kadang juga digunakan untuk pemeriksaan kesehatan lansia dan kegiatan masyarakat lainnya,” ujarny, Rabu (04/06/2025).
Dengan konsep inklusif, perpustakaan ini menjembatani kebutuhan akan literasi dan pelayanan sosial.
Di dalamnya tersedia koleksi bacaan dari berbagai bidang, mulai dari pertanian, perikanan, hingga pengembangan UMKM.
Warga desa kini dapat menggali informasi secara digital dan mandiri melalui perangkat yang tersedia di lokasi.
“Di situ lengkap. Mau belajar tentang perikanan, usaha kecil, sampai pertanian, semuanya ada. Tinggal dimanfaatkan,” kata Sarmin.
Ia menaruh harapan besar agar perpustakaan ini dapat mendorong peningkatan kapasitas warga, terutama anak-anak muda yang sudah terbiasa dengan penggunaan teknologi digital.
Lebih dari sekadar tempat membaca, perpustakaan ini juga berperan sebagai pusat pengelolaan dokumen desa.
Sarmin mengungkapkan bahwa pihaknya sedang merancang pembangunan satu unit bangunan khusus untuk arsip.
Tujuannya, agar seluruh dokumen penting milik desa bisa disimpan dengan rapi dan aman dalam jangka panjang.
“Kalau ada anggaran, kami ingin bangun gedung khusus arsip. Supaya surat-surat desa tidak rusak atau hilang,” jelasnya.
Ia menambahkan, pengelolaan arsip nantinya akan mengikuti pedoman resmi, karena tidak semua dokumen dapat dimusnahkan begitu saja.
Namun demikian, Sarmin mengakui bahwa tantangan terbesar saat ini adalah membangun kesadaran warga terhadap pentingnya literasi digital dan dokumentasi.
Meski perpustakaan telah tersedia dengan fasilitas memadai, namun belum seluruh masyarakat memanfaatkannya secara optimal.
“Kadang perpustakaan ini masih dipandang sebelah mata. Padahal manfaatnya sangat besar, baik untuk pendidikan maupun layanan publik,” tutup Sarmin.
Melalui perpustakaan ini, Desa Ponoragan menunjukkan bahwa transformasi digital di tingkat desa bukan hal yang mustahil. Justru dari ruang kecil di pelosok, semangat perubahan dapat tumbuh dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. (Fh/adv)





