Foto: Seremonial Begasing pada Pembukaan Lomba Oltrad Bagian dari Rangkaian Erau Adat Kutai 2026.

412 Peserta Ikuti Lomba Olahraga Tradisional Erau Adat Kutai 2026

KUTAI KARTANEGARA — Sebanyak 412 peserta mengikuti lomba olahraga tradisional yang menjadi bagian dari rangkaian Erau Adat Kutai 2026 di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

Kegiatan yang digelar Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kukar tersebut dibuka di area parkir Pulau Kumala, Tenggarong, Senin (21/9/2026). Empat olahraga tradisional dipertandingkan, yakni menyumpit, bergasing, belogo dan ketapel.

Berdasarkan data peserta, lomba bergasing menjadi cabang dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 200 orang. Selanjutnya belogo 95 peserta, menyumpit 65 peserta dan ketapel 52 peserta.

Kepala Dispora Kukar, Aji Ali Husni, mengatakan festival olahraga tradisional menjadi salah satu kegiatan yang rutin dilaksanakan dalam rangkaian Erau Adat Kutai.

Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari rangkaian Erau, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertahankan keberadaan olahraga tradisional sekaligus mendorong perkembangannya di tengah masyarakat.

“Tujuannya untuk meningkatkan prestasi masyarakat khususnya generasi muda, menumbuhkan nilai sportivitas, kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya daerah,” ujar Ali.

Pelaksanaan lomba juga dinilai mendukung pengembangan Erau sebagai event budaya dan pariwisata unggulan Kukar agar semakin dikenal lebih luas, termasuk di tingkat nasional.

Selain empat cabang yang dipertandingkan, tahun ini Dispora Kukar turut memperkenalkan satu olahraga tradisional melalui eksibisi. Pengenalan tersebut diarahkan untuk memperluas minat masyarakat, termasuk anak-anak, terhadap olahraga tradisional.

“Kalau memang ini tumbuh pesat dalam perkembangannya di wilayah Kabupaten Kukar, tidak menutup kemungkinan event ini akan selalu kita libatkan dalam kegiatan Erau selanjutnya,” katanya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kukar, Sunggono, mengatakan olahraga tradisional dalam rangkaian Erau memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar pertandingan.

Menurutnya, setiap permainan memiliki keterampilan dan nilai yang berbeda. Belogo, misalnya, membutuhkan kemampuan memperhitungkan sasaran, sementara bergasing memerlukan keterampilan, ketekunan, pemahaman bahan dan teknik. Menyumpit melatih fokus, pengendalian diri serta ketepatan, sedangkan ketapel membutuhkan konsentrasi dan keterampilan.

“Olahraga tradisional tidak berhenti sebagai kegiatan pelengkap di sebuah festival. Pemerintah daerah bersama Kormi, komunitas, satuan pendidikan, serta pemerintahan desa maupun kelurahan perlu memperkuat pembinaan secara berkelanjutan,” ungkap Sunggono.

Ia mengatakan keberlanjutan olahraga tradisional tidak cukup hanya dengan mempertahankan jenis permainannya. Pelaku, ruang bermain, komunitas, aturan permainan hingga regenerasi juga perlu diperhatikan.

Karena itu, Sunggono mendorong penyediaan ruang latihan, kaderisasi pelatih dan juri, dokumentasi aturan permainan, kompetisi berjenjang serta kesempatan bagi generasi muda untuk terlibat.

Ia juga mengajak orang tua mengenalkan olahraga tradisional kepada anak-anak sebagai bagian dari upaya menjaga keberlangsungannya di tengah perubahan zaman.

“Mari kita jadikan lomba tradisional Erau Adat Kutai 2026 sebagai arena yang menggembirakan, aman, sportif dan bermartabat, sebagai ruang silaturahmi para pegiat, tempat belajar bagi generasi muda serta bagian dari upaya bersama menjaga kekayaan budaya Kutai Kartanegara dan Nusantara,” pungkasnya. (Adv/fi)

5 views 3 mins 0 Comments